• Banjir Barabai : Banjir ini Tidak Seperti Biasanya

    #prayforkalsel

    Cerita ini dikirimkan oleh Kak Anisa Safarina, seorang member Female Blogger of Banjarmasin, yang terdampak banjir Barabai, Hulu Sungai Tengah. Sebelum membaca artikel ini, mari kita kirimkan doa untuk Provinsi Kalimantan Selatan. Semoga kita selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan selalu dalam lindungan Allah. Aamiin. 

    data banjir kalimantan selatan
    Data 16 Januari 2021 | Sumber : beritabanjarmasin.com

    Kamis/14 Januari 2021, Sekitar Pukul 03.00 Dinihari

    banjir barabai
    Banjir Barabai, Hulu Sungai Tengah

    Rabu malam sebelum tidur, saya membagikan postingan rekan-rekan LAZISMU HST yang membuka donasi untuk membantu musibah banjir di beberapa daerah. Tidak sedikitpun ada firasat saat itu bahwa musibah banjir yang lumayan besar juga akan kami alami sendiri, dalam beberapa jam ke depan.

    Kami terbangun dengan kondisi lantai rumah yg sudah terendam banjir hampir setinggi lutut. Pengalaman sekian puluh kali mengalami banjir, biasanya kami terbangun ketika air masih sampai halaman rumah. Rupa-rupanya banjir kali ini benar-benar bergerak cepat dibanding biasanya.


    Setengah jam berlalu, kami masih menyelamatkan barang seperti biasanya. Meletakkan barang ke atas meja dan lemari yang lebih tinggi. Hingga saat tetangga sekaligus keluarga kami mengevakuasi anak beliau ke rumah kami yang alhamdulillah berlantai dua, barulah kami tersadar bahwa banjir ini tidak seperti biasanya.


    Akhirnya kami putuskan untuk mengangkat barang-barang penting saja ke lantai 2. Dompet, berkas-berkas penting dan beberapa pakaian. Alhamdulillah setidaknya berhasil kami selamatkan. Motor dan mobil juga sempat kami pindahkan ke tempat yang sedikit lebih tinggi. Meski kemudian tingginya air, membuat kami tidak berani membayangkan entah bagaimana kemudian nasibnya.


    Evakuasi Tetangga ke Rumah saat Banjir Barabai


    Tetangga-tetangga yang lain juga kami panggil untuk ikut mengevakuasi diri ke rumah kami. Mereka pun hanya sempat menyelamatkan diri hampir tanpa barang berharga apapun.


    Jam 04.00 subuh, total 9 orang sudah mengevakuasi diri di rumah kami. Terdiri dari 2 orang anak-anak, 2 orang tua, 1 laki-laki dewasa dalam kondisi demam sudah 2 hari, 1 orang laki-laki dewasa, 2 orang perempuan dewasa, dan saya sendiri (Sasa) yang sedang hamil muda.


    Setelah kami selesai sholat subuh dalam kondisi darurat, saya mulai mengecek HP. HP satu-satunya yang masih aktif di rumah kami. Barulah kami membaca informasi betapa besarnya banjir kali ini. Tidak hanya rumah yang hanyut, bahkan kabarnya beberapa orang telah dilaporkan hilang terbawa arus.


    1 Bungkus Mie Cup Instan


    Beberapa jam terendam banjir, membuat perut kami sudah mulai keroncongan. Barulah kami sadar tidak ada sedikit pun makanan yang kami bawa. Menunggu sedikit terang, suami turun ke lantai 1 untuk cek kondisi sekaligus mencoba mencari makanan. 


    Satu bungkus mie cup instan yang sudah basah, berhasil dibawa. Karena tidak ada pilihan lain, mie inipun coba kami buka dan alhamdulillah isinya masih kering. 1 bungkus mie gelas instan untuk dimakan bersama 9 orang. Alhamdulillah.


    Evakuasi Tetangga yang Terjebak di Plafon Rumah saat Banjir Barabai


    Mulai Evakuasi Banjir Barabai


    Sekitar jam 08.00 pagi, kami dikejutkan dengan beberapa orang tetangga yang berenang di halaman. Ternyata beliau-beliau sedang dalam perjalanan mengevakuasi tetangga yang kabarnya terjebak di plafon rumah. Saling menanyakan kabar di kiri dan kanan rumah yang sama-sama jadi tempat evakuasi. Kami mendengar beberapa cerita evakuasi yang ternyata sangat sulit. Bahkan nenek kami sendiri sempat terlepas dari tali darurat untuk menyeberang ke depan rumah. Bersyukur sekali nenek kami masih diberikan keselamatan oleh Allah.


    Cerita lainnya, satu keluarga dengan 2 orang anak yang 1 diantaranya masih bayi. Beliau ternyata sempat terjebak di dalam rumah hingga terpaksa menggergaji jendela kamar untuk bisa mencapai rumah bagian belakang. Dengan bersusah payah melawan arus air yang cukup deras, syukurlah keempat anggota keluarga ini juga berhasil menyelamatkan diri.


    Mendengar cerita-cerita para tetangga, membuat kami tidak henti-hentinya mengucap syukur atas keselamatan diri kami semua.


    Sepulangnya dari proses evakuasi, salah satu tetangga kami berinisiatif sendiri untuk memetikkan jambu biji untuk diberikan kepada kami. Alhamdulillah 3 buah jambu matang kembali kami bagi-bagi untuk mengisi perut.


    Air Sudah Setinggi Dagu Laki-laki Dewasa


    Menjelang siang, saat tinggi air di halaman rumah sudah sekitar lebih dari 3 meter. Cuaca juga sangat gelap saat itu. Tidak ada tanda-tanda air akan menyusut. Melihat kondisi ini, saya dan suami berdiskusi apa yang harus kami lakukan untuk selanjutnya bisa mengisi perut kami. Akhirnya kami putuskan untuk coba mencari tabung gas yang tidak berhasil diselamatkan. 


    Hanya suami saya yang saat itu memungkinkan turun ke lantai 1 karena beliau saja yang badannya paling tinggi dibandingkan kami semua. Dengan penuh susah payah (karena air di dalam rumah sudah hampir menyentuh dagu suami dan barang-barang pun berhamburan karena derasnya arus air),  alhamdulillah suami berhasil menyelamatkan tabung gas, beberapa kotak susu UHT anak, beras, minyak goreng, beberapa biji telur, dan beberapa potong ayam.


    Perjuangan kembali dilanjutkan untuk coba memperbaiki tabung gas yang sudah lumayan lama terendam air. Berbekal keberanian dan petunjuk dari tetangga sebelah, sekitar 1 jam kemudian akhirnya kompor berhasil dinyalakan. Bergembiralah kami karena akhirnya bisa memasak untuk mengisi perut yang semakin keroncongan. Stok makanan yang didapat kami coba hemat dengan membaginya untuk 2 kali makan. Untuk siang ini dan untuk besok pagi. Sedangkan untuk air minum, kami menampung dari air hujan setetes demi setetes dengan baskom seadanya. 


    Sulit menjelaskan bagaimana perasaan kami ketika air hujan turun. Antara takut sekali banjir akan naik lagi, namun juga bersyukur karena kami bisa mendapatkan air bersih untuk dimasak.


    Ketika Hujan Tak Kunjung Berhenti


    Rasanya begitu cepat hari kami lalui hingga menjelang malam. Malam tanpa penerangan sedikitpun, karena HP sebagai satu-satunya alat komunikasi saat itu juga harus benar-benar dihemat baterainya. 


    Begitu lelah dengan perjuangan bertahan hidup selama seharian, ternyata tidak juga membuat mata kami mengantuk. Karena ketika malam pun, hujan meski tidak sederas malam sebelumnya, namun hampir turun sepanjang malam. Kami semua diliputi kekhawatiran dibenak masing-masing. Apalagi melihat jarak air dengan lantai 2 rumah, tinggal sekitar 1 meter.


    Bahkan jujur saja, saya dan suami sudah berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk. Kami mulai mencari apa yang bisa digunakan untuk penyelamatan darurat. Setidaknya ada beberapa baskom besar yang bisa digunakan untuk memasukkan anak. Tali-tali yang ada pun juga kami persiapkan. Tentu saja sepanjang malam kami terus berdoa agar barang-barang tersebut tidak akan digunakan sebagaimana yang kami khawatirkan. 


    Saya sendiri hampir terjaga sepanjang malam. Memeluk anak, mendengarkan dengan baik-baik untuk coba membaca kondisi di luar. Sambil memantau ketinggian air melalui anak tangga. Malam itupun terasa begitu jauh lebih lama dilalui dibandingkan saat siang harinya.


    Hari Kedua Banjir Barabai


    Sekitar jam 03.00 dinihari, melihat baterai HP yang semakin lemah, Saya terpikir untuk mengabarkan kondisi kami saat itu melalui status WhatsApp. Setidaknya agar teman-teman mengetahui kondisi kami dan bersyukur sekali jika ada yang bisa datang memberikan bantuan. Kami paham betul bahwa seluruh Barabai juga mengalami banjir serupa dan pasti sedang sama-sama berjuang seperti kami.


    Selesai semuanya sholat subuh, kami memulai hari kedua dalam kondisi banjir dengan memasak stok makanan terakhir saat itu. Sambil terus menjaga kondisi rumah agar tetap membahagiakan meski di tengah ujian banjir demi anak-anak.


    Kami kembali berpikir bagaimana caranya kami meyambung hidup. Apa lagi yang kira-kira bisa kami dapatkan untuk mengisi perut. Tetangga-tetangga juga mulai mengeluhkan hal yang sama. Kehabisan stok makanan. 


    Bantuan Pertama Datang dari Saudara


    Tidak membiarkan kami berlama-lama dalam kekhawatiran, sungguh Allah Maha Baik. Dan tentu juga berkat doa yang dikirimkan keluarga dan teman-teman. 


    Menjelang siang, ada 2 orang berjas hujan berenang di bawah air hujan bersusah payah dengan bantuan tali menuju rumah kami. Bersyukur saat itu banjir sudah mulai surut dan tersisa sekitar 2 meter. Mereka membawa baskom besar berisikan kantong plastik. Betapa terharu dan berbahagianya kami ternyata yang datang adalah om dan sepupu. Mereka tinggal jauh dari rumah kami, di kabupaten sebelah tepatnya di Desa Kasai, Batumandi.


    Om Pudin dan sepupu kami Sardian. Dua orang pahlawan kami yang di kirim Allah, datang pertama kalinya mengirimkan bantuan. Kami semakin terharu ketika menanyakan di mana posisi motor beliau, yang ternyata terakhir bisa dipakai hanya sampai sekita pom bensin Mandingin. Selebihnya dari sana hingga menuju rumah kami, atau sekitar 2,3 km, beliau berdua tempuh hanya dengan berjalan kaki.


    Setelah menyerahkan bungkusan, beliau berpesan kepada kami untuk semรจntara tidak keluar rumah dulu. Apalagi sepanjang perjalanan beliau, kata beliau banjir terdalam adalah di daerah rumah kami. Beliau kemudian kembali ke luar karena ingin mrncarikan mie instan dan air mineral.


    Nila Baubar Kuah Santan


    Bungkusan dari beliau kami buka dengan penuh sukacita. Beliau mrmbawakan kami beberapa nasi bungkus, dengan lauk nila baubar (bakar) kuah santan. Makanan paling enak yang kami santap selama banjir ini. Tentunya karena dibawakan disaat yang benar-benar kami semua butuhkan. Suami saja sebagai orang paling tidak ekspresif yang pernah saya kenal, menyuap makanannya dengan berlinangan air mata. Terharu, bersyukur. Semua yang berada di sini pun tentunya merasakan hal yang sama.


    Anak kamipun makan sambil berceloteh. Beberapa kali mengulang kslimat, betapa enaknya makanan yang dibawakan Busu (Paman) Pudin. Dia juga bertanya di mana Busu Pudin membelinya. Bahkan anak kami meminta nanti kalau banjir sudah selesai, mau minta dimasakkan lagi, jika ternyata makanan ini dimasak oleh keluarga kami di Desa Kasai. Alhamdulillah. Sangat senang melihat anak kami yang sangat berbahagia memakannya.


    Bantuan Mulai Berdatangan


    Tidak beberapa lama setelah Busu Pudin mencarikan bantuan tambahan, datang tim SAR dari Kandangan dengan bantuan perahu karet. Pertama kali mereka berkeliling untuk memastikan bahwa semua orang selamat dan dalam kondisi aman. Kemudian beliau membawakan bantuan makanan. Disusul oleh tim dari Nagara, Amuntai, dan mungkin dari daerah-daerah lain yang tidak sempat kami tanya satu persatu. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah. Kami dan lima rumah evakuasi lainnya sudah bisa lega, setidaknya ada makanan untuk hari itu.


    Saya sendiri sempat berdialog singkat dengan tim SAR, menanyakan perlukah untuk melakukan evakuasi kami ke tempat lain. Dengan berbagai pertimbangan, diantaranta gedung evakuasi terdekat dari dari posisi kami yang sudah penuh. Bahkan kabarnya, tidak semua bisa berbaring di sana dan hanya bisa duduk untuk beristirahat di malam harinya. Kemudian pertimbangan jumlah orang dari total 7 rumah evakuasi terdekat sebanyak lebih dari 70 orang. Dan tentu pertimbangan utama adalah air banjir yang sudah mengalami penurunan meskipun sangat lambat.


    Nyanyian Tidur dan Lantunan Syukur


    Di malam kedua banjir, semua orang kecuali saya, tidur dengan sangat lelap. Bahagia sekali mendengar "nyanyian tidur" mereka yang bersahut-sahutan. Sungguh perjuangan yang tidak mudah sudah kami lalui bersama-sama selama dua hari. Bersyukurlah mereka bisa beristirahat dengan sangat nyaman malam ini. Saya sendiri ternyata belum juga bisa tidur nyenyak dimalam kedua. Tapi bukan karena diliputi kekhawatiran seperti malam sebelumnya. Sebaliknya, malam ini karena diliputi kesyukuran yang luar biasa.


    Seperti yang sering dikatakan oleh suami bahwa saya adalah orang yang begitu ekspresif, sebagaimana kebalikan dirinya. Dan benar saja. Untuk kesyukuran selama banjir ini, perlu waktu hampir semalam penuh ternyata untuk mengekspresikannya. Sulit sekali menghentikan air mata syukur yang terus berlinang. Bagai berdialog dengan Allah dan diri sendiri, boleh dibilang tulisan inipun lahir dimalam kedua ini. Meski tidak sempat dituliskan karena alat bantu tulis (HP) yang sudah kehabisan barerai. Sepanjang malam, tidak selesai juga draft panjang yang saya ingat untuk disyukuri. 


    Mulai dari keselamatan semua dari kami, rejeki makanan yang kami dapat hingga tidak sempat lama kami kelarapan, banjir yang sudah semakin turun, air hujan yang hampir tidak terdengar lagi di malam kedua, kebaikan para tetangga yang tetap saling menolong, bantuan-bantuan yang dikirimkan kepada kami termasuk doa-doa yang dipanjatkan oleh para keluarga dan teman. Bahkan hal-hal kecil seperti dengkuran suami, usilnya tangan dan kaki anak selama tidur. Dan begitu banyak hal lain yang jika saya tuliskan akan membuat teman-teman membaca hingga berjam-jam hanya untuk bagian ini.


    Rasa Syukur Mengalahkan Kesedihan


    Sebegitu besar rasa syukur yang dirasakan, hingga mengalahkan kesedihan atas ujian pasca banjir yang mulai perlahan dirasakan. Mobil dan motor yang sepenuhnya terendam banjir, namun ini pun masih begitu  kami syukuri karena setidaknya mereka semua tidak terbawa arus. Buku-buku warisan dari almarhum abah dan album-album foto kenangan bersama beliau yang hancur. Perabot rumah berupa lemari, meja, dan lainnya  yang sepenuhnya rusak bahkan hancur. Alat-alat elektronik yang juga hampir bisa dipastikan rusak karena beberapa hari terendam, kondisi rumah kayu dan sudah tua yang karena banjir ini mengalami kerusakan sekitar 30%. 


    Tapi kesedihan ini kami anggap hanyalah sebagai pelajaran sabar dan ikhlas yang Allah sampaikan kepada kami korban banjir Barabai semuanya. Saya pun yakin, dibalik semua yang kami alami sekarang, akan ada pengampunan dan pahala besar yang menanti kami jika melaluinya dengan sabar dan ikhlas. Sungguh semua karena Allah begitu sayang.


    Keseimbangan Alam


    Banjir besar kali ini sejatinya juga sebagai cambuk bagi kita seluruh manusia yang ikut menyaksikan. Alam sebenarnya selalu berjalan sesuai dengan sunnatullah, sebagaimana proses penciptaannya sejak dulu kala. Kitanya saja sebagai khalifah yang sering lalai untuk menjaga keseimbangannya. 


    Resapan air yang semakin berkurang, pasak bumi yang semakin dihilangkan, dan mungkin masih banyak ketidak seimbangan lain yang kita manusia akibatkan. Namun demikianlah, bumi pun juga sudah teruji waktu untuk membuktikan dan selalu menemukan keseimbangannya dengan berbagai cara. Bisa jadi, banjir besar kali ini adalah salah satu cara nya. 


    Penutup


    Tulisan ini juga sebagai informasi untuk keluarga dan teman-teman yang mohon maaf, karena kami sudah membuat kalian begitu khawatir. Tulisan ini diketik pada hari Sabtu, 16 januari 2021 pukul 23.19 malam. Kami, Sasa dan keluarga besar dalam kondisi yang sudah jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Bantuan makanan, pakaian, dan obat-obatan mulai berdatangan. 


    Banjir di rumah lantai 1 juga tinggal sekitar setengah lutut. Mohon maaf karena kami kembali meminta doa keluarga dan teman-teman semua, agar kami diberikan kesehatan dan kekuatan untuk proses recovery seperti pembersihan rumah, perbaikan alat elektronik, kendaraan, dan berbagai tugas pasca banjir. 


    Terima kasih untuk setiap relawan yang membantu banjir besar di Barabai sekitarnya. Menyaksikan perjuanga  kalian, rasanya hanya surga yang pantas untuk membalas budi baik saudara relawan semuanya.


    Terima kasih juga untuk para donatur di bagian bumi manapun berada. Sungguh bantuan yang kalian kirimkan, mungkin terasa kecil jika dalam kondisi biasanya. Tapi sungguh, terasa begitu mengharukan, begitu besar artinya bagi kami semua yang saat ini sedang diuji musibah banjir.


    Terima kasih untuk seluruh keluarga, teman, dan siapapun yang ikut mengirimkan doa bagi kami semua. Sungguh, kekuatan doa kalianlah yang ikut menggerakkan hati dan memudahkan langkah bagi para donatur dan relawa semuanya.


    Terima kasih khusus saya sampaikan kepada anak saya, Muhammad Naufal Khairuzzaman yang saat ini berusia 7 tahun. Terima kasih karena dalam waktu singkat ini sudah mau belajar banyak hal yang mungkin belum benar-benar waktunya untuk engkau pahami. Terima kasih sudah mau ikut bersabar dan bersyukur dalam menjalani pengalaman hidup kita kali ini. Naufal tidak perlu bersedih karena tidak ada satupun buku-buku Naufal yang bisa kita selamatkan. Satu-satunya barang yang Naufal tanyakan ketika pertama kalinya kami turun untuk mulai membersihkan lantai satu. Yakin saja nanti Allah akan mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih indah.


    Tulisan ini hadiah mama untuk Naufal, yang akan Naufal kenang kelak disuatu saat nanti.

    Begitu panjang tulisan ini, tidak lain juga sebagai salah satu self healing bagi saya, penulis pribadi.

    Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan

    16 januari 2020.

    Anisa Safarina

  • 29 komentar:

    1. Titikan banyu mata membaca tulisan sasa ๐Ÿ˜ญ sehat selalu untuk sasa n keluarga

      BalasHapus
      Balasan
      1. terasa sebagai bagian dari tokoh dlm cerita pendek penuh makna. sukses slalu buat sasa

        Hapus
    2. Sangat terharu dan memberikan pembelajaran arti sebuah kehidupan.

      BalasHapus
    3. Masya Allah...menangis berderai membacanya. Semoga Sasa sekeluarga dirahmati Allah dunia dan akhirat. Terima kasih Sasa atas tulisannya. Naufal pasti sangat bangga dan bersyukur punya Ibunda seperti Sasa

      BalasHapus
    4. Sasa~ alhamdulilah udh baik2 aja. Semoga banjir kali ini ngk terulang lg nnti. Aamiin. Tulisan mu luar biasa sa ☺️����. Sehat sehat trus Qt smw. Aamiin~

      BalasHapus
    5. Alhamdulillah... Maha Suci Allah... Semoga dgn adanya musibah kali ini, kita bs trs merendahkan diri... Dan selalu bersyukur thdp pemberian Allah... Semoga musibah di Kalsel cpt selesai... Aamiin Aamiin Aamiin Allahumma Aamiin...

      BalasHapus
    6. Barubuyan banyu mata membaca, tumat semalam mengganang barabai, dangsanak bubuhan kab banjar pun kebanjiran di beberapa kecamatan baik di kota maupun di gunung tp msh ada jalan yg kwa di lalui di tengah kota kd kya barabai yg tinggalam lalu makanya tapikirakan barabai. Mudahan kita brataan selamat, kuat n sehat mehadapi musibah banjir tahun ini, smoga Allah ta'ala melindungi kita brataan, aamiin yaa Robb

      BalasHapus
    7. Sasa alhamdulillah selamatan semuax...kemarin sempat khawatir dpt kabar dri group latsar kita...moga Sasa dan keluarga diberi kesabaran dan keikhlasan menerima semua cobaan ini...semangat selalu Sasa...

      BalasHapus
    8. Alhamdulillah semoga ini jd pelajaran buat kita semuaa ๐Ÿ˜ญ hanya doa yg bs kita panjatkan mudah2an semua musibah ini tdk akan terulang lg & yg mengalaminya mndptkan rezeki & dibukakan selebar2 nya kesabaran bagi mereka.. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ™ aminn..

      BalasHapus
    9. Masya Allah..
      Terharu mbc tulisannya
      Perjuangan hidup ditengah musibah yg tak terduga
      Alhamdulillah diberi keselamatan dan selalu diberi kesehatan kpd semua semua korban utk 'berbenah' pasca banjir

      Uln izin post tulisan pian lah..

      BalasHapus
    10. MasyaAllah...terharuu...sepertinya ini adalah ilmu terbesar

      BalasHapus
    11. Alhamdulillah kawa melawati ujian dengan berbagi dan bersabar, tidak bisa dibayangkan jika itu terjadi pada diri ini. Terima kasih sudah memberikan pelajaran berharga lewat tulisan sa. Semangat kaka Naufal...

      BalasHapus
    12. Allah bersama orang2 sabar...

      Semangat kaka...

      Tulisan yg sangat berharga, ๐Ÿ˜ญ๐Ÿคฒ,,
      Allah akan gantikan yg lebih baik suatu saat nanti.. ❤️❤️❤️

      BalasHapus
    13. Masya Allah..tatangis ibu mambaca tulisan Sasa..sabar..kuat dan ikhlas..ada hikmah dibalik bencana banjir ini.smg kelg sasa disehatkan..sll dlm lindunganNya

      BalasHapus
    14. MasyaAllah...
      Subhanallah...
      Alhamdulillah..
      InsyaAllah dibalik ini semua, Hikmah yg besar gasan pian sekeluarga ding, juga utk warga Barabai berataan..
      Ttp sehat sllu gasan pian berataan...

      BalasHapus
    15. Titik banyu mata Ulun. Apa yg piyan tulis, bisa Ulun rasakan. Walaupun jauh kami di Kaltim tapi kuitan di brb jd korban dan bediam di plafon rumah, semoga bencana ini segera berakhir dan Allah gantikan dgn yg lebih baik

      BalasHapus
    16. Mudahan sehat selalu sekeluarga utk ibu Masinah. Membaca sambil membayangkan suasana buhan pian saat banjir tu. Luar biasa sabar wan kuat. Mudahan apa apa yang hilang digantikan dgn yg lbh baik. Aamiin

      BalasHapus
    17. Alhamdulillah melalui tulisan ini sdh dapat kabar mbk anisa, terakhir baca postingan di fb, semoga selalu sabar dan sehat sehat ya mbk ( isnie ramdhani)

      BalasHapus
    18. MasyaAllah Ding Sasa, tulisannya luar biasa menyentuh.. semoga diberikan kesehatan terus sekeluarga ya..(afrisa tekim 06)

      BalasHapus
    19. Semoga mba Sasa dan keluarga senantiasa diberi perlindungan Allah SWT

      BalasHapus
    20. Asa tabayang masih mun membaca kesahnya ni.. Mudahan apa yg hilang diganti Allah lawan nang lebih baik lagi. Aamiin

      BalasHapus
    21. Subhanallah..antara sedih syukur juga membaca kisahnya. Barakallah semoga ujian ini membawa kebaikan keberkahan bagi kita semua. Saling menolong dan mendoakan tuk semua. Salam ukhuwah dari Rahmi warga Balangan yg ikut juga merasakan banjir krn ortu dan keluarga di Balangan Bjm juga banjir sebagian terutama dataran rendah dan sekitar sungai. Saat ini merantau di Kubar Kaltim khawatir juga dg warga Kalsel.

      BalasHapus
    22. Merinding mmbaca kisahnya, kda tebayang bnar mun di posisi mba Sasa. Tp alhamdulillah selamatan aja berataan hen.

      BalasHapus
    23. Ya Allah mbaa.kita senasib mba. Tp kami msh bsa ngungsi di tengah derasx hujan dan gelapx malam

      BalasHapus
    24. Semoga bencana ini segera berlalu dan kita bisa melanjutkan hidup dengan kondisi yang lebih baik. Aamiin. #kalselkuat.

      BalasHapus
    25. ya allaah sesih banar mambaca ini tu, terharu jua, semoga kota barabai lekas pulih

      BalasHapus
    26. titik banyu mata luun membacanya.mudahan semua yang kebanjiran kuat berataan

      cobaan gasan kita berataan..

      BalasHapus